“Ego”
Sunday, September 10th, 2006Salah satu sifat yang tertanam pada setiap manusia, pada waktu masih kecil, ego kita biasanya hanya sebatas mencari perhatian disekelilingnya, tetapi begitu menginjak masa-masa remaja ego itu berubah menjadi lebih besar, katanya sih sebagai pembuktian diri sebagai remaja, kadang-kadang pada masa ini ego tersebut tidak terkendali atau tersalurkan dengan benar, akibatnya, salah satu contohnya adalah batu-batu yang beterbangan di jalan-jalan (tawuran) hehehehe…..
Di tulisan sebelumnya gua nulis hubungan antara ego dan buaya darat dan ternyata emang mempunyai kaitan yang erat. Kalo cowo mungkin lebih senang mengekspresikan egonya, beda dengan cewe mereka lebih bisa menutupi egonya.
sejalan dengan bertambahnya pengalaman, kita mulai belajar bahwa ego itu harus ditempatkan pada tempat yang benar atau lebih bisa mengendalikan egonya.
Kenapa siy harus ada pengenalan/pacaran dulu sebelum menikah? kenapa banyak pasangan muda yang menikah tapi berakhir dengan perceraian??
Menjadi tua itu pazti, Menjadi dewasa adalah pilihan.
Belum tentu orang yang berumur itu sudah dewasa, tingkat kedewasaan orang ditentukan oleh seberapa banyak pengalaman yang dapat dia ambil hikmahnya. Biasanya semakin dewasa orang itu semakin baik dia dapat mengendalikan egonya, bahkan dia juga dapat mengarahkan ego-ego orang disekitarnya agar masuk ke kondisi/situasi yang positif.
seperti biasa gua lebih suka menyajikan faktanya langsung :
Oktober 2005,
waktu itu gua kenal sama seseorang, kita kebetulan nginep di tempat yang sama. paginya setelah salat subuh kita ngobrol sebentar, awalnya siy cuma basa-basi pekerjaan aja. dia cerita tentang salah satu mitra kerjanya, seorang cewe yang masih mahasiswi di salah satu PTS di SBY, beberapa hari ini dia memang sering bertemu dengan cewe itu jadi hubungan mereka menjadi semakin akrab, dia bilang kalo hubungannya sama cewe itu cuman sekedar temen kerja aja. tapi koq gua nangkepnya beda yah. Dari cara dia ngomong gua tau bahwa orang ini lagi tertarik sama rekan kerjanya.
Dari cerita lagi, gua juga tahu bahwa cewe itu juga tertarik, karena menggangap dia lebih dewasa dan lebih bisa ngemong (nyari bahasa indonesianya susah).Kira-kira normal gak yah ada seseorang yang tertarik sama rekan kerjanya sendiri??
Nah masalahnya adalah dia udah punya istri dan anak yang masih kecil, Nah lho !!! kok bisa?? setelah beberapa lama ngobrol akhirnya dia mao ngomong masalah yang agak privacy, ternyata dia memang lagi ada masalah sama istrinya, masalah umum setiap orang, masalah ekonomi.karena akhir-akhir ini keuangannya lagi seret, istrinya males untuk melayani dia lagi. apalagi ditambah dia masih tinggal sama mertuanya, beban mentalnya makin bertambah.
Karena masalah itulah, sekarang dia lebih betah untuk ketemu sama cewe itu daripada pulang kerumah. walaupun dia gak pernah bilang tertarik sama cewe itu tapi gua tahu kalo dia lagi butuh pelarian.
Waktu itu gua cuman jadi pendengar aja, masalahnya ini adalah masalah rumah tangga orang lain, jadi gua gak bakal ikut campur kecuali kalo diminta, tapi dasarnya gua emang bandel akhirnya gua ijin ngasih saran ke dia kalo boleh,dan dia setuju.
Waktu itu gua ngomong : "saya percaya anda sudah dewasa dan bisa melihat persoalan ini dengan kepala dingin jadi terserah anda ingin memutuskan yang mana, tapi saran saya adalah apapun keputusan anda, keputusan tersebut harus anda putuskan berdasarkan apa yang terbaik bagi anak anda dan bukan keputusan terbaik untuk anda sendiri, istri anda, atau bahkan cewe itu."
Akhirnya dia setuju sama pendapat gua, dia juga ngomong bahwa satu-satunya alasan dia masih mao pulang kerumah adalah untuk ketemu sama anaknya.
Pagi yang indah, hari itu gua dapet pengalaman sharing yang luar biasa dan tentunya sahabat baru yang tulus………….(^v^)v
kadang-kadang kita lebih mengedepankan ego ketimbang akal sehat yang akhirnya dapat mengorbankan istri, suami, atau bahkan yang paling parah adalah anak. dan pada akhirnya penyesalan pun datangnya belakangan. makanya sebelum memutuskan sesuatu itu alangkah baiknya jika masalah tersebut dipikir-pikir dahulu dengan baik.
Suami juga manusia, kalo dibebanin terus sama masalah pekerjaan apalagi kalo pulang kerumah bukannya dihibur malah dicuekin dan gak dilayanin lagi, yah akibatnya dia bakalan nyari pelarian ke hal yang lain.
Sebagai suami juga jangan mengedepankan ego sendiri, lihatlah masalah dari sisi yang positif Insya Allah ketika kita berpikir positif maka kita juga akan menemukan jalan keluar yang positif.
Gua bukan orang yang sempurna yang bisa melakukan semua hal diatas, gua cuman kangen sama anak-anak T-102 yang dulu, mereka selalu bisa melihat masalah dari sisi yang lebih bijaksana (Boss, Dani, Hendra, dan Darwin).
Satu lagi, semoga suatu hari nanti gua bisa mengucapkan janji ini pas gua nikah "Aku menikahi kamu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu dan juga apapun masa lalumu". simple, tapi apa bisa semua orang melakukannya???
Gua sendiri belum tentu bisa. Tapi hidup adalah sebuah perjalanan, masih banyak hal yang harus dicari jawabannya, melalui suatu kesalahan yang berbuah pengalaman dan pada akhirnya kita dapat memetik hikmahnya. Amin
Dedicated for "The one" who can make me release all of my ego.
Regardz,
Galih Yudhistira