Experience
pengalaman adalah guru yang terbaik, itu kata pepatah. kalo menurut gua sih emang bener banget karena pengalaman memberikan kenyataan terlebih dulu baru kemudian pelajarannya. semakin besar sakit yang kita terima dari pengalaman tersebut semakin besar pula pelajaran yang kita dapatkan.
Dengan pengalaman jugalah kita bisa menjadi lebih bijak dalam menyelesaikan masalah. mendapatkan pengalaman tidak harus dengan mengalami langsung tapi bisa juga dari bertukar pikiran atau sharing pengalaman hidup dengan orang lain, tetapi memang lebih baik jika mengalaminya sendiri karena pengalaman tersebut akan terus melekat di diri kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
"Lebih baik gagal daripada tidak pernah mencoba sama sekali"
Case 1
One of the worst day I ever had, It happen when…………. pengumuman nilai NEM ujian akhir SD yang ternyata meleset jauh dari perkiraan gua. Duh sumpah deh kaya disamber geledek tengah hari bolong, tapi mao gimana lagi yah emang dapet cuma segitu, kejadian ini akhirnya berlanjut pada Black list di dalam catatan hidup gua, dan harus gua bayar selama 3 tahun untuk menahan beban mental dan yang pazti belajar untuk tidak mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya.
Impactnya Karena kejadian ini, selama gua skul di SMPN 19 bekasi alhamdulillah berhasil menjadi salah satu siswa yang terbaik di sekolah (bukan mo nyombong, tapi ini adalah akibat dari sebab yang gak mao gua ulang). Waktu pengumuman NEM bayangan jadi yang tertinggi di sekolah, waktu pengumuman NEM asli jadi terbaik ke-4. Alhasil gua bisa masuk ke SMU paling Fave di bekasi, dan disana masuk dikelas yang anak2 dengan nilai yang terbaik (menurut gua neh kelas yang paling aneh, masa semua anak2 dengan nilai NEM terbaik dimasukin kesini semua, kelas orang2 Freaks!!!!).
Janganlah melihat dari hasil yang gua capai, tapi liatlah dari rasa sakit yang gua simpen selama 3 tahun di SMP hanya karena sebuah nilai. And at that time I swear that this would never happen again.
Case 2
Gak semua masalah bisa diselesaikan dengan skill programming, kadang kita juga harus belajar tentang seni berhubungan dengan manusia. kejadiannya lupa kapan yang pazti waktu gua SMU, waktu itu gua abiez pulang dari sekolah + les bimbel. pokoknya suasana hati lagi gak mood banget. Setelah itu ade gua juga balik dari sekolah tapi dia gak bawa sepedanya, ternyata sepedanya ditahan pihak sekolah (alasannya lupa gua, yang pazti hal sepele yang gak perlu). akhirnya gua dateng ke sekolahnya (daripada bokap yang dateng nanti malah kacau, tapi pada akhirnya gua yang buat kacau semuanya) dan ketemu sama penjaga sekolah dan juga mantan guru gua disana (SMPnya sama kaya gua), karena dari awalnya gua dah emosi dan juga denger penjelasan yang gak masuk akal akhirnya hampir aja berantem ama penjaga sekolahnya. untung waktu itu bokap dateng dan menyelesaikan masalah secara damai. Duh kalo diinget2 lagi gua malu kalo harus dateng ke SMP gua lagi. Yang pazti gua belajar satu hal bahwa "masalah gak bisa diselesaikan dengan emosi".
Oktober akhir 2005,
akhirnya gua sampe juga ke rumah setelah menempuh 17 jam perjalanan dari surabaya ke jakarta. Pertama kali dateng jelazz gua langsung istirahat, badan pegel semua kebanyakan duduk. Malem harinya gua denger suara rame-rame diluar, ternyata di luar emang lagi ada keributan antara remaja sama salah satu warga setelah ditelusuri masalahnya cuma salah paham dan emosi aja (ada warga yang marah2 karena ada anak yang maen musik sampe malem, dan anak tersebut gak terima truz malah dibales nyelempari rumah warga itu dengan petasan). tapi gua herannya kok sampe bawa2 polisi polsek, wah masalah jadi semakin rumit neh. akhirnya diadakan musyawarah di rumah ketua RT untuk mencari penyelesaian yang terbaik dengan pak polisi sebagai penengah, pihak warga didampingi RT, pihak remaja didampingi pembina remaja dan ketua remaja (soalnya tersangkanya wakil ketua sendiri hehehe…). gua juga ikut walaupun baru tahu masalahnya sedikit, dan juga karena gua pernah jadi ketua remaja disana jadi gua berkewajiban untuk mendampingi remaja sana.
Dari awal suasana udah gak kondusif, sebenernya orang yang rumahnya dilemparin petasan cukup bijak dalam menanggapi masalahnya tapi masalahnya itu istrinya suka ngomporin suaminya jadi suasana tambah parah, belum lagi RT yang seharusnya netral, eh dia malah berat sebelah (susah deh kalo remaja udah terseret juga ke masalah intern bapak2). untung polisi sebagai pihak penengah gak terprovokasi ama RT dan istri warga itu. Berhubung forumnya berat sebelah, akhirnya gua minta supaya musyawarah ini fokusnya lebih ke penyelesaian masalah kalo ngomongin masalah terus dari awal gak bakal selese2 ampe kiamat. akhirnya dibuat kesepakatan antara 2 pihak (daripada ada anak dari lingkungan gua yang masuk penjara cuma gara2 hal sepele).
Setelah musyawarah selese apakah masalah juga selesai? hm……. anda salah. kedua pihak masih saling menyimpan rasa gak suka. hm…….. jelaz masalah harus dituntaskan ampe selese apalagi ini bulan ramadhan, masa bulan suci tapi sesama saudara dekat sendiri musuhan. Akhirnya gua ambil inisiatif untuk pendekatan personal ke kedua pihak yang berselisih. dimulai dari pihak remaja, nanganin-nya memang agak susah tapi dengan sedikit bersabar dan menjelazkan pelan-pelan akhirnya dia mao terima kesepakatan yang telah dibuat (soalnya gua yakin kalo gak di giniin besok pagi pazti mereka mulai lagi melempar petasan huehehehehe………. jiwa pemberontaknya tinggi). satu masalah selese tinggal pihak warganya, kasusnya sama aja gua diterima baik dirumahnya dan mereka mulai cerita panjang lebar (seperti biasa, sifat manusia itu gak mao disalahin) tapi akhirnya gua arahin juga ke penyesaian masalah secara kekeluargaan dan akhirnya mereka bisa menerimanya. dan masalah pun selesai and I proud can give something useful for other people from what I have learned before.
Kesimpulannya : sifat dasar manusia adalah ingin didengarkan, sebesar apapun masalahnya mereka cuma ingin ada orang yang mendengar dan mengerti mereka. Allah menciptakan manusia dengan 2 telinga dan 1 mulut, sudah kodrat kita sebagai manusia untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Semoga bisa bermanfaat bagi yang membacanya. Amin
"Dedicated for Dale Carniegie, Thank you for the all Lesson that you have taught me. You are really great teacher who teach us how dealing with people".
Regardz,
Galih Yudhistira
June 9th, 2006 at 8:16 pm
Pengalaman adl guru yg terbaik. Menariknya, hal ini sebenernya tidak hanya mengacu pd pengalaman diri sendiri. Kita pun juga bisa belajar dari pengalaman orang lain. Kita ndak perlu merasakan sendiri getir-pahit klo kita bisa belajar dari kegagalan orang lain.
Tapi seringkali yg lebih manjur memang belajar dari pengalaman sendiri. Mengapa? karena jejak emosinya sedemikian terasa. Terlebih lagi, ada genuine-emotional-drive yg mampu menggerakkan kita utk berubah scr konsisten. Spt yg dialami Galih dg prestasinya wkt SMP ^_^
Setiap pengalaman pasti ada maksud & hikmahnya, entah kita bisa segera menemukannya atau nggak.
June 10th, 2006 at 11:27 pm
Wah saya tersanjung. orang yang saya anggap sebagai salah satu guru terbaik saya di kampus mao memberikan masukan di blog ini.
Memang benar, kita dapat belajar dari pengalaman orang lain. sama kasusnya seperti kita menyewa pemandu, misalnya untuk mendaki gunung. Tetapi pada akhirnya memang terserah kita untuk menentukan apakah kita dapat mengambil hikmah dari pengalaman2 pemandu tersebut ataukah kita mengabaikannya dan mengulangi kesalahan yang sama dengan pemandunya.
December 6th, 2006 at 10:43 am
pengalaman adalah guru sekaligus pemenjara
kenapa guru?
karena pengalaman memberikan kita pengetahuan berdasarkan pengalaman tersebut
kenapa pemenjara?
karena pengalaman membuat manusia bereaksi sesuai pengalamannya
kita membutuhkan pengalaman
tapi kita juga membutuhkan imajinasi
karena kebenaran lebih dari sekedar keadaan faktual
my blog : http://sidvector.blogs.friendster.com/my_blog/